[Prologue] Cerita dari Kakak UI
Ada maba UI nanya, "Kak, aku mau pake jilbab tapi blom siap, malu."
Kakak UI jawab, "Buat apa malu, sekarang waktu yang tepat, mumpung libur dan kamu bisa sekalian beli baju baru buat kuliah, beli rok panjang dan jilbab, kan nanti pas masuk kuliah, kamu punya temen-teman baru, jadi kamu ga bakal canggung, yang mereka tau kamu berjilbab."
Maba UI: "Tapi aku blom siap."
Kakak UI: "Kamu masuk UI seneng ga?"
Maba UI: "Seneng lah."
Kakak UI: "Udah bersyukur?" "Mungkin sehelai jilbab dapat membuktikan rasa syukurmu pada Allah."
Maba UI: =.= (tiba-tiba dia nangis.... bingung dieminnya)
---------------------------------------------------------
Lebih milih kue tart yang terbungkus kardus atau gorengan yang terbungkus koran?
Jadilah kue tart, kue yang mahal, disimpan dalam kardus, hanya dapat disentuh oleh orang yang membelinya, dipuji saat orang memakannya, diberikan kepada orang yg istimewa.
Atau memilih gorengan, harganya murah, dapat dilihat lihat dan dipegang2 sebelum membeli, bahkan terkadang sudah dilalati, dibungkus dengan sobekan koran, tak ada rasa istimewa ketika memakannya.
Kue tart dan gorengan sama-sama kue, sama-sama terbuat dari terigu, yg berbeda hanyalah penempatan dan kemasannya.
Bersyukurlah bagi teman-teman yang sudah memilih menjadi kue tart.
Bagi saya, hanya wanita berjilbab lah yang mampu memberikan kerahasian tubuhnya. Maka dari itu lah saya sangat mengagumi wanita berjilbab. Dan sangat beruntung seorang pria mendapatkan istri yang berjilbab. Karena hanya pria itu lah yang mengetahui kerahasiaan tubuh wanita tersebut. Tak ada yang tahu selain dia. Dan wanita masih punya kebanggaan yang masih bisa ditunjukkan kepada suaminya.
Pokoknya thumbs up dah buat wanita berjilbab.
Link: http://digitalase.wordpress.com/
Sumber: Group FB Mahasiswa UI 2011 (Chit-Chat)
Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts
Sunday, June 5, 2011
Sunday, May 29, 2011
Renungan untuk Para Orang Tua
Dari: Abdul Rahman's Note
Setiap manusia pasti mempunyai cita-cita dan impian, sama halnya saya dan teman-teman. Di usia kita yang rata-rata 18 th, kita semua tahu dan sadar bahwa pribadi kita saat ini berbeda dengan pribadi kita 10 tahun yang lalu. Yang mana di usia kita saat ini kita sudah mulai membangun karakter dan prinsip hidup kita masing-masing.
Tapi apakah bijak para orang tua kita, bila di usia kita saat ini mereka masih melarang kita untuk menentukan karakter dan prinsip hidup kita masing-masing. Pertanyaannya: "Bagaimana kita bisa terjun kedalam masyarakat apabila di setiap kita mau memulai hidup kita sendiri orang tua selalu melarang kita untuk mengambil keputusan kita sendiri". Bukankah setiap pilihan yang kita pilih melalui proses yang panjang.
"Bukankah orang tua melarang atas dasar rasa sayang?" Tidak, tapi yang justru terjadi adaalah membunuh karakter sang anak. Sebenarnya dengan melarang itu lebih banyak dampak negatifnya, misalnya membuat anak menjadi mudah untuk berbohong kepada orang tua.
Apakah para orang tua tidak tahu sebenarnya larangan yang mereka lakukan adalah bentuk ketakutan mereka terhadap anak mereka. Para orang tua takut jika anak mereka gagal. Tapi kalau alasan para orang melarang anak mereka karena takut anak mereka gagal itu salah besar. Bukankah proses dalam menuju sukses itu pasti ada sebuah peristiwa yaitu gagal. Lalu "mengapa para orang tua harus takut jika anaknya gagal?" Padahal dari kegagalan itu sang anak akan belajar lagi bagaimana caranya agar tidak gagal lagi dalam menghadapi masalah yang sama, hingga akhirnya mereka bisa menggapai kesuksesan mereka sendiri.
Menurut saya akan lebih bijak jika orang tua lebih kepada memberikan arahan dan pilihan-pilihan untuk anak mereka dan memberikan keputusan sepenuhnya kepada anak mereka masing-masing dari pada melarang setiap keputusan mereka.
Orang tua hanya boleh melarang anak mereka apabila keputusan yang dipilih anak mereka sudah tidak sesuai lagi dengan ajaran agama.
Labels:
Masa SMA,
Opini,
Pengalaman,
Tulisan Teman
Saturday, June 20, 2009
Bukan Sebuah Debat Capres
Terdorong dengan tontonan gue yang berjudul Debat Capres beberepa hari yang lalu, gue akan memberikan komentar terhadap acara tersebut.
Setelah mencermati, bersemedi di ranjang gue alias tidur, dan mendapat referensi tambahan dari postingannya mega, ada beberapa hal yang masih kurang sempurna dari perspective gue sendiri.
Pertama pas nonton sambil surfing di internet gue dengerin kok kayanya gak ada marah" atau sorak sorai dari masing" pendukung capres padahal biasanya kalo acara Debat TV One kan tuh yang debat sampe ngotot" yang pendukungnya juga ikut ngebacot. Tapi tuh acara Debat Capres tuh ga gigit deh.
Abis itu gue tanya kaka gue kan, "ini judulnya apaan teh?" (teh=panggilan untuk kaka perem di sunda).
Kaka gue jawab, "Debat Capres".
Gue nanya lagi dengan nada menyindir, "Debat Capres kok ga ada debatnya dari tadi".
Kaka gue jawab dengan santa, "taauuuu... dah".
Kaka laki" gue bilang moderatornya kurang berbobot. Iya juga sih, si moderator ga membawa para capres untuk saling berdebat. Padahal moderator itu orang yang mengatur flow sebuah forum layaknya playmaker dalam suatu permainan.
Sampe akhir acara gue liat ketiga capres itu senyum" aja. Padahal tuh gue mau ngeliat megawati kaga bisa ngomong dan rasa kesal yang dibuat kepada moderator karena si megawati ngomongnya ga nyambung alias out of topic.
Giliran di luar panggung mereka bertiga saling menghina satu sama lain. Giliran disatuin dalam satu panggung malah saling setuju, kayanya tuh mereka pada hati" untuk melangkah. Sok jaim mereka bertiga!
Setelah mencermati, bersemedi di ranjang gue alias tidur, dan mendapat referensi tambahan dari postingannya mega, ada beberapa hal yang masih kurang sempurna dari perspective gue sendiri.
Pertama pas nonton sambil surfing di internet gue dengerin kok kayanya gak ada marah" atau sorak sorai dari masing" pendukung capres padahal biasanya kalo acara Debat TV One kan tuh yang debat sampe ngotot" yang pendukungnya juga ikut ngebacot. Tapi tuh acara Debat Capres tuh ga gigit deh.
Abis itu gue tanya kaka gue kan, "ini judulnya apaan teh?" (teh=panggilan untuk kaka perem di sunda).
Kaka gue jawab, "Debat Capres".
Gue nanya lagi dengan nada menyindir, "Debat Capres kok ga ada debatnya dari tadi".
Kaka gue jawab dengan santa, "taauuuu... dah".
Kaka laki" gue bilang moderatornya kurang berbobot. Iya juga sih, si moderator ga membawa para capres untuk saling berdebat. Padahal moderator itu orang yang mengatur flow sebuah forum layaknya playmaker dalam suatu permainan.
Sampe akhir acara gue liat ketiga capres itu senyum" aja. Padahal tuh gue mau ngeliat megawati kaga bisa ngomong dan rasa kesal yang dibuat kepada moderator karena si megawati ngomongnya ga nyambung alias out of topic.
Giliran di luar panggung mereka bertiga saling menghina satu sama lain. Giliran disatuin dalam satu panggung malah saling setuju, kayanya tuh mereka pada hati" untuk melangkah. Sok jaim mereka bertiga!
Friday, June 5, 2009
Sugesti Kentut
Kan gue lagi nonton JAIL di Trans TV. Jadi disitu ada seorang pramuniaga lagi ngelayanin pembeli pas lagi si pramuniaga lagi ngambilin sepatu dengan posisi nungging ada suara kentut jadinya kan si pembeli kaget, tapi yang gue heran kok pada tutup hidung padahal ga pake bau"an loh??
Orang Indonesia udah pada tersugesti dengan suara kentut, kalo ada suara kentut ya berarti itu bau dan orang-pun langsung tutup hidung. Gimana ya yang terjadi kalo ngedengerin suara gue..? :p
Orang Indonesia udah pada tersugesti dengan suara kentut, kalo ada suara kentut ya berarti itu bau dan orang-pun langsung tutup hidung. Gimana ya yang terjadi kalo ngedengerin suara gue..? :p
Labels:
Opini,
Pengalaman
Subscribe to:
Posts (Atom)